Saturday, March 16, 2013

Si Pitung, Preman di Seantero Batavia

TEMPO.CO, Jakarta - Si Pitung lahir di Kampung Rawabelong dengan nama Salihoen, di akhir abad ke-19. Ia merupakan anak keempat dari pasangan Piun dan Pinah. Sejak kecil, Pitung kerap melihat centeng si tuan tanah, Liem Tjeng Soen, merampas padi dan ternak orangtuanya. Namun ia belum mengerti soal tanah partikelir atau tuan tanah.

Dalam sirus resmi Provinsi DKI Jakarta, diceritakan bila Pitung mendapatkan ilmu mengaji dan silat dari Haji Naipin, kiai terkemuka di Rawabelong. Kepada Pitung, Naipin memberikan ilmu Paneasona. "Sebuah ilmu bela tingkat tinggi yang membuat pemilik ilmu kebal dari benda tajam," tulis situs itu.

Pitung menjadi preman setelah jengah melihat orang sekampungnya kerap ditindas Belanda dan tuan tanah. Bergabung dengan sekelompok maling insaf, Pitung merampas harta tua tanah, penguasa pribumi, dan orang kaya yang berpihak ke Belanda.

"Daerah pergerakan Pitung sangat luas," kata pengamat kebudayaan Betawi, Yahya Andi Saputra, Jumat, 15 Maret 2013. "Dari daerah selatan, utara, barat, timur, bahkan Pasar Baru."




"Di masa itu, preman muncul untuk menolong rakyat miskin," kata Yahya. "Mereka merampok harta milik tuan tanah dan belanda, untuk diberikan ke orang kampung."




Setelah Pitung tewas ditembak kontrolir Belanda, Scout Heyne, preman Betawi terus bermunculan. Ada Entong gendut yang menguasai wilayah Condet di abad ke-20, atau Kai'in bin Kayah di Tangerang pada 1920an. "Sama seperti preman Betawi lainnya, Kai'in juga membela rakyat miskin," kata Yahya. "Dalam pidatonya, dia mengajak masyarakat merebut tanah dari orang kulit putih atau tuan tanah."


BERBAGAI SUMBER | CORNILA DESYANA




Baca juga
EDISI KHUSUS: Hercules dan Premanisme
Hercules, dari Dili ke Tanah Abang

Kantor Tempo Diserang

Hercules, dari Dili ke Tanah Abang

Rizal Mallarangeng Ogah Vilanya Dibongkar

Vila Liar, Rizal Tak Gentar Dipenjara 10 Tahun







ifttt
Put the internet to work for you. via Personal Recipe 3011197

No comments:

Post a Comment